Sabtu, 06 April 2024

Kita Bikin Romantis di Titik Nol Kilometer Yogyakarta

 

titik nol kilometer, sumber foto : https://visitingjogja.jogjaprov.go.id/

Kawasan titik nol kilometer Yogyakarta merupakan pertemuan empat ruas jalan (perempatan) yaitu Jalan KH Ahmad Dahlan (sisi Barat), Jalan Margo Mulyo (sisi Utara), Jalan Panembahan Senopati (sisi Timur), dan Jalan Pangurakan (sisi Selatan). Sebenarnya letak titik nol kilometer ada di sepanjang jalan mulai dari Alun Alun Utara sampai ke Jalan Margomulyo lebih tepatnya di Ngejaman (sebuah Jam besar yang terletak di pinggir jalan).

Kawasan ini merupakan patokan untuk penentuan jarak antar daerah dan juga sebagai pusat Kota Yogyakarta. Pada zaman dahulu hingga tahun 1980-an di perempatan tersebut tedapat sebuah air mancur sebagai pertanda Pusat Kota Yogyakarta. Namun saat ini air mancur tersebut sudah tidak bisa ditemui lagi.

Bangunan bersejarah yang bisa ditemui di sekitar Kawasan Titik Nol Kilometer antara lain Gedung Agung sebagai salah satu Istana Kepresidenan, Gedung Bank BNI, Gedung Kantor Pos, Gedung Bank Indonesia, Benteng Vredeburg, Monumen Serangan Oemum 1 Maret, Alun Alun Utara, Kraton Yogyakarta, dan Malioboro. Dengan banyaknya bangunan Istimewa ini pengunjung sangat dimanjakan untuk menelusurinya.

Gedung Bank BNI, sumber foto : https://id.wikipedia.org/

Gedung Agung adalah Istana Kepresidenan yang berada di luar DKI Jakarta. Hingga saat ini masih digunakan ketika Presiden Republik Indonesia mempunyai agenda di Kota Yogyakarta. Pada masanya, bangunan ini menjadi tempat kediaman Soekarno ketika Ibukota Negara berada di Yogyakarta.

Benteng Vredeburg saat ini digunakan sebagai museum untuk menyimpan benda bersejarah. Terbuka untuk umum sehingga pengunjung bisa menjadikannya sebagai tujuan wisata sejarah di Yogyakarta.

Bangunan Kantor Pos Yogyakarta, sejak zaman dahulu hingga sekarang tidak mengalami perubahan fungsi yaitu sebagai Gedung pos, telgraf, dan telepon. Sedangkan Gedung Bank BNI pada zamannya merupakan kantor asuransi. Lantai bawahnya digunakan sebagai kantor siaran Radio Hoso Kyoku pada masa penjajahan Jepang.

Monumen Serangan Oemum 1 Maret terletak di dalam Kawasan Benteng Verdeburg yang menjadi tempat bermulanya serangan umum 1 Maret 1949. Lokasi ini sebagai tempat berkumpulnya pasukan Indonesia melawan Belanda sebelum mereka menyebar untuk menyerang dari berbagai arah. Saat ini, seringkali lokasi ini digunakan sebagai tempat pertunjukan tertentu.

Jika anda beruntung, bisa menikmati event tertentu yang seringkali berlokasi di Kawasan ini. Memang tidak bisa dipastikan jadwal event yang akan datang. Tapi tanpa event, Kawasan ini tetap romantis. Banyak tersedia kursi yang bisa digunakan nongkrong di pedestariannya. Cukup dengan mengamati kendaraan yang lalu lalang, pengunjung bisa menghabiskan waktu dengan ngobrol santai dan menikmati suasana. Yogyakarta memang selalu bisa dibikin romantis di setiap sudutnya.

Selain itu, hunting foto di Kawasan ini merupakan salah satu spot favorit. Bisa berfoto dengan latar belakang bangunan bersejarah atau mencari nuansa malam yang romantis. Semuanya bisa diperoleh di kawasan ini. Waktu berkunjung terbaik bagi yang hanya sekedar duduk di Kawasan Titik Nol Kilometer adalah senja hingga malam hari.

Untuk mencapai lokasi Titik Nol Kilometer, Anda bisa mengakses mulai dari Jalan Malioboro maupun Jalan Panembahan Senopati. Selain itu Anda bisa mengakses melewati Jalan KH Ahmad Dahlan maupun Jalan Pangurakan. Akan tetapi kendaraan yang digunakan harus diparkir di masing-masing kantor parkir yang sudah disediakan. Sehingga pengunjung harus berjalan kaki menuju Kawasan Titik Nol Kilometer dari kantong parkirnya. Tapi semua itu tidak mengurangi semangat pengunjung di sini.

Jadi, kapan menghabiskan malam di Titik Nol Kilometer?

Gembira Loka Zoo, Kebun Binatang di Yogyakarta

 

Gembira Loka Zoo, sumber foto : id.wikipedia.com

Kebun Binatang legendaris di Kota Yogyakarta adalah Gembira Loka Zoo. Bermula dari keinginan Sri Sultan Hamengku Buwono VIII untuk memiliki tempat hiburan bagi rakyat yang sekaligus sebagai tempat peliharaan satwa. Keinginan ini terealisasi oleh Sri Sultan Hamengku Buwono IX pada tahun 1933. Meski Pembangunan sempat terhenti karena perang dunia II dan pemindahan ibukota ke Jakarta, namun akhirnya dilanjutkan oleh Paku Alam VIII sampai koleksi satwa berkembang dan pengunjung semakin banyak.

Gembira loka secara  harfiah berarti tempat gembira. Sangat sesuai dengan keinginan awal Sri Sultan Hamengku Buwono VIII. Gembira loka berada di Jalan Kebun Raya Nomor 2, Rejowinangun, Kotagede. Dengan lahan seluas 22 Ha, kiranya sangat beragam koleksi satwa dan juga wahana di dalamnya.

Koleksi satwa terbagi menjadi enam zona yaitu zona burung, zona cakar, zona mamalia, zona petting zoo, zona primate dan zona reptile. Selain koleksi satwa, terdapat pula gerai souvenir, presentasi edukasi satwa dan wahana. Wahana sendiri terbagi menjadi terapi ikan, atv, bumper boat, spea boat, memberi makan satwa, kolam tangkap ikan dan zona olah raga.

Enam zona yang menampung koleksi satwa di Gembira Loka Zoo adalah :

Zona Burung

Berisikan aneka macam burung baik endemik Indonesia maupun mancanegara. Beberapa jenis burung yang ada di sini adalah Kakatua Amazon, Penguin Jackass, Elang Bondol, Elang Ular Bido, Nuri Abu Abu Afrika, Beluk Ketupa, Kakatua Maluku, Undan Kacamata, Makau Merah Hijau, Kasuari Gelambir Dua, Itik Benjut, Merak Hijau, Belibis Polos, Angsa Hitam, Elang Brontok, Kakatua Raja, Mambruk Viktoria, Nuri Dusky, Nuri Raja Ambon, Perkici Pelangi, Kacamata Fisher, Nuri Kepala Hitam, Mandar Besar, Trulek Topeng, Parkit Matahari, Nuri Tanimbar, Nuri Hitam, Nuri Maluku, Jagal Papua, Julang Emas, Beluk Jempuk, Elang Laut Perut Putih, Flamingo Kecil, Jalak Kecil, Kakatua Tanimbar, Delimukan Zamrud, dan Kecembang Gadung.

Zona Cakar

Berisi aneka mamalia karnivora seperti Harimau Sumatra, Macan Dahan Sunda, Beruang Madu, Macan Tutul Jawa, Kucing Bakau, Otter Sero Ambrang, Singa Afrika, dan Serval.

Zona Mamalia

Mamalia adalah hewan menyusui. Beberapa mamalia yang ada adalah Gajah Sumatra, Tapir Brazil, Ankole Watusi, Kudanil, Binturong, Coatimundi, Meerkat, dan Kapibara.

Zona Petting Zoo

Zona ini adalah interaksi memberi pakan satwa secara langsung. Satwanya antara lain Keledai, Kuda Poni, Kambing Ceko, Kalkun dan Alpaka.

Zona Primata

Berikutnya adalah zona primata dengan beberapa satwa di dalamnya adalah Simpanse, Orangutan Kalimantan, Common Squirrel Monkey, Common Marmoset, Monyet Tonkean, Owa Jawa, Marmoset Rumbai Hitam, Lutung Jawa, Siamang, dan Owa Janggut Putih Kalimantan.

Zona Reptil

Reptil adalah hewan yang berdarah dingin dan hanya dapat hidup pada suhu tertentu. Sisiknya tidak dapat tumbuh sehingga ketika terjadi pertumbuhan reptil maka sisik akan sobek dan digantikan dengan sisik yang baru. Reptil yang ada di Gembira Loka Zoo antara lain Kura Kura Aldabra, Phyton Burma, Viber Blue Insularis, Iguana, Buaya Muara, dan Kadal Lidah Biru.

Sebagai salah satu tempat wisata favorit di Yogyakarta, Gembira Loka Zoo buka setiap hari. Bahkan jam operasional ketika Hari Sabtu, Minggu dan libur nasional lebih pagi dari hari lainnya. Jam opersasioanal di hari biasa adalah pukul 08.30 – 16.00 WIB, sedangkan di hari Sabtu, Minggu dan libur nasional adalah pukul 08.00-16.00 WIB. Jangan lupa siapkan alas kaki yang nyaman serta pelindung kepala untuk kenyamanan berkunjung.

Apabila pengunjung terasa lapar dan membutuhkan asupan makanan, silakan berkunjung ke beberapa resto yaitu Kantin Outan (makanan dan minuman segar berasal dari buah), Kantin Flamingo (aneka ricebox), dan Gajah Resto (resto di atas danau Mayang Tirta).

Nah, ayo berlibur ke Gembira Loka Zoo…

Jumat, 05 April 2024

Pantai Parangtritis, Pantai Legend Dari Yogyakarta

Parangtritis, sumber foto : https://travel.kompas.com/

Parangtritis merupakan pantai legendaris Laut Selatan yang menjadi salah satu tempat wisata favorit di Yogyakarta. pantai yang membentang sangat luas dan menjadi bagian dari Samudra Hindia. Dalam satu garis pantai yang sama dengan Parangtritis, terdapat Pantai Parangkusumo yang menjadi sumbu imajiner dengan Kraton Yogyakarta, Tugu Yogyakarta dan Gunung Merapi.

Sebaga pantai yang legendaris, tidak lepas dari mitos yang kental. Mitos dari Pantai Parangtritis adalah pengunjung dilarang menggunakan baju berwarna hijau. Warna hijau merupakan warna favorit dari Nyi Roro Kidul yang merupakan penghuni Kerajaan Laut Selatan yang konon katanya istananya berada di Laut Selatan.

Parangtritis berada di Kapanewon (Kecamatan) Kretek, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Lebih tepatnya sekitar 27 km sebelah Selatan Kota Yogyakarta. Dari Pojok Beteng Wetan (Kota Yogyakarta) terdapat jalan raya ke arah Selatan yang disebut Jalan Parangtritis. Sebenarnya tidak hanya melewati Jalan Parangtritis saja cara yang bisa ditempuh menuju Pantai Parangtritis. Tapi yang segaris lurus hingga Ringroad Selatan adalah Jalan Parangtritis ini.

Pantai Parangtritis memiliki pasir pantai yang berwarna hitam dan landai, tapi jangan terlena karena terdapat palung yang berada di dalam samudranya. Ombak yang besar membuat pengunjung ingin bermain dengan deburan ombak. Tapi sekali lagi agar selalu patuh terhadap tanda bahaya yang diberikan oleh petugas SAR. Tidak sedikit korban yang berjatuhan karena mengabaikan tanda bahaya tersebut.

tanda bahaya, sumber foto : medcom,id


Menjadi Istimewa karena di sepanjang bentang pantai tidak terdapat karang sama sekali. Hanya di bagian timur pantai terdapat karang yang sangat indah untuk diijadikan spot foto. Menurut cerita yang beredar, Parangtritis berasal dari kata parang (yang berarti karang) dan tritis (yang berarti air yang menetes).

Banyak sekali aktivitas yang bisa dilakukan di Pantai Parangtritis. Mulai dari berkuda, naik bendi (dokar kecil), dan naik ATV bisa menjadi pilihan untuk menuju bagian timur yang terdapat karang yang sangat indah. Tarif masing-masing wahana tersebut berbeda-beda. Tapi merupakan tarif flat sehingga tidak ada persaingan harga.

Bagi pengunjung yang hanya ingin bersantai di pinggir pantai juga tidak kalah seru. Cukup dengan sewa payung/bangku/tikar bisa bersantai menikmati semilir angin dan suara deburan ombak sambil memandang lepas luasnya Samudra Hindia. Yang perlu diperhatikan adalah persiapkan sunblock untuk menjada kulit dari terpaan matahari. Atau topi dan payung sebagai pelindung kepala. Karena di sepanjang Pantai Parangtritis tidak ada pohon peneduhnya. Tapi tidak perlu khawatir, asalkan melakukan perawatan wajah dengan skincare yang cocok pasti akan mengembalikan kesegaran wajah. Salah satunya menggunakan Theraskin yang aman dan halal serta sudah mendapatkan BPOM.

Pengunjung bisa menikmati garis pantai dan ombak yang terbentuk dari sebuah bukit yang tak jauh dari pintu masuk. Sekitar 700 km ke arah timur lalu belok arah utara. Dengan jalan tanjakan tajam dan sedikit berkelok, pengunjung sampai di sebuah bukit yang menyediakan es kelapa muda dan beberapa makanan. Nikmatilah sambil memandang garis pantai yang sangat cantik.

Senja dengan matahari terbenam sangat cantik dan menawan jika dilihat dari bibir pantai. Tak perlu risau, karena jagung bakar akan menemani kalian ketika senja berganti malam. Namun, tetap perlu berhati-hati  dan waspada dengan ombak besarnya.

Beberapa pantai dan objek wisata di sekitar Pantai Parangtritis sangat banyak. Pengunjung bisa mengunjungi tempat pelelangan ikan sambil menikmati ikan bakar atau ikan goreng di Pantai Depok. Selain itu pengunjung bisa mengunjungi gumuk pasir yang menjadi lokasi sand board. Gumuk pasir merupakan salah satu warisan dunia karena jumlahnya yang terbatas. Terbentuk dari material Gunung Merapi dengan prose alam, menjadikannya menarik di mata wisatawan.

Jadi, kapan berwisata ke Kawasan Pantai Parantritis?

 

Senin, 01 April 2024

Wisata Religi di Pesarean Imogiri

 

Pasarean Imogiri, sumber foto : https://budaya.jogjaprov.go.id/

Tidak bisa dipisahkan dengan Kraton Yogyakarta, Pemakaman Imogiri merupakan tempat peristirahatan terakhir para Raja Mataram beserta keturunannya baik Kasultanan Yogyakarta maupun Kasunanan Surakarta. Bagi Kasultanan Yogyakarta, Sultan yang mangkat akan melewati Plengkung Gading untuk menuju Pemakaman Imogiri. Semasa hidupnya, Sultan dilarang melewati Plengkung Gading kemanapun tujuannya. Plengkung Gading hanya dilewati Sultan yang sudah mangkat menuju peristirahatan terakhirnya.

Pemakaman Imogiri disebut juga dengan Pasarean Imogiri terletak di Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Pasarean Imogiri berjarak 16 km di sebelah Selatan Kraton Yogyakarta. Imogiri terdiri dari dua kata yaitu Hima yang berarti kabut dan Giri yang berarti gunung. Pasarean Imogiri bisa diartikan sebagai pemakaman yang berada di gunung (tempat yang tinggi) dan berselimut kabut.

Pembangunan Pasarean Imogiri digagas oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo. Pembangunannya dimulai sejak tahun 1632. MItos yang ada, Sultan Agung Hanyokrokusumo ingin dimakamkan di Tanah Mekah yang memiliki keharuman. Namun beberapa penasihat mengurungkan dengan alasan pengikut Sultan Agung akan kesulitan untuk berziarah. Kemudian tanah yang harum dari Mekah dibawa oleh Sultan Agung ke Mataram dan melemparkannya. Lokasi jatuhnya tanah tersebut adalah tempat dimana Sultan Agung dimakamkan kelak yang saat ini disebut Bukit Merak. Sultan Agung tidak hanya memikirkan makam untuk diri sendiri tapi juga untuk keluarga dan keturunannya sehingga dibangunlah Pemakaman Imogiri dengan luas sekitar 10 hektar.

Sultan Agung Hanyokrokusumo merupakan Raja Mataram pertama yang dimakamkan di Pasarean Imogiri. Dengan terpecahnya Mataram menjadi Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta tetap menyatukan mereka di tempat peristirahatan terakhirnya. Kompleks untuk pemakaman Raja dari Kasultanan Yogyakarta (Sri Sultan Hamengku Buwono) berada di sisi Timur. Sedangkan untuk pemakanan Raja dari Kasunanan Surakarta (Susuhunan Paku Buwono) berada di sisi Barat.

Sri Sultan Hamengku Buwono yang dimakamkan di Pasarean Imogiri mulai dari HB I (Hamengku Buwono I) , HB III sd HB IX. Sri Sultan Hamengku Buwono II dimakamkan di komplek pemakaman Kotagede. Hal itu karena ketika beliau wafat sedang terjadi pertempuran antara Pangeran Diponegoro melawan Belanda. Sehingga dengan pertimbangan keamanan, beliau tidak dimakamkan di Pasarean Imogiri.

Pasarean Imogiri menjadi tujuan utama kegiatan ziarah leluhur Mataram. Bagi para peziarah wajib mentaati beberapa tata tertib jika masuk zona tertentu di kawasan ini. Salah satunya adalah wajib menggunakan pakaian adat seperti yang digunakan oleh abdi dalem. Bagi wanita menggunakan kain sebatas dada sedangkan bagi pria meggunakan kain, surjan, dan blangkon. Kesemuanya dilarang menggunakan alas kaki dan perhiasan. Peziarah dilarang menyalakan suara seperti radio dan handphone agar tidak mengganggu peziarah lainnya.

Tidak setiap hari pengunjung dapat berziarah dengan leluasa. Untuk hari biasa, ziarah hanya diperkenankan pada hari Senin dan Jumat mulai pukul 10.00 WIB sd 13.00 WIB. Ziarah juga dibuka pada tanggal 1 dan 8 Syawal serta tanggal 10 Dzulhijjah. Namun selama Bulan Ramadan ziarah ditutup penuh.

Jadwal Ziarah, sumber foto : https://budaya.jogjaprov.go.id/


Bagi pengunjung yang tidak melakukan ziarah kubur, bisa menikmati suasana Bukit Merak. Di area parkir kendaraan terdapat banyak sekali warung yang menjajakan masakan siap saji dan juga oleh-oleh. Bubur gudeg, sayur tradisional, pecel, bisa ditemui di sini. Pengunjung yang akan mencari oleh-oleh khas Imogiri adalah wedang uwuh yang banyak ditemui baik di warung tersebut bahkan di rumah produksi sekitar lokasi.

Pengunjung yang membawa anak, ajaklah menaiki andong mengelilingi kawasan sekitar makam. Tentu akan menjadi kesan tersendiri menikmati angin sepoi-sepoi menerpa wajah dan melihat kibasan ekor si kuda.

Tidak salah, ketika Pasarean Imogiri menjadi salah satu tempat wisata favorit di DIY. Bisa wisata sejarah dan juga wisata religi di sana.

Minggu, 31 Maret 2024

Gemerlap Alkid (Alun-Alun Kidul) di Malam Hari

 

Becak cinta, sumber foto : detik.com

Yogyakarta merupakan kota yang memiliki dua alun-alun di dalamnya. Biasa disebut dengan alun-alun lor dan alun-alun kidul. “Lor” adalah Bahasa Jawa untuk Utara sedangkan “kidul” adalah Bahasa Jawa untuk Selatan. Nah, kemeriahan malam hari Kota Yogyakarta berada di Alun-Alun Kidul yang menjadi salah satu tempat wisata favorit.

Sebelum menceritakan tentang gemerlapnya Alun – Alun Kidul yang disebut dengan Alkid, ada baiknya sedikit belajar sejarah tentang keberadaan alun-alun. Alun – alun lor berada di sebelah Utara Kraton Yogyakarta sehingga bisa dianggap sebagai halaman depan Kraton. Luasnya lebih besar dibandingkan dengan alkid. Namun keduanya memiliki pohon beringin kembar yang terkurung (ringin kurung) di tengahnya. Selain itu persamaan berikutnya adalah alas dari keduanya berupa pasir. Alun-alun Utara digunakan sebagai tempat berlangsungnya kegiatan Kraton. Pada zaman dahulu, Alun – Alun Utara merupakan tempat dimana rakyat melakukan “tapa pepe” (berjemur memakai baju putih) sebagai bentuk protes terhadap ketidakadilan yang dirasakan.

Alun – Alun Kidul, memiliki luas yang lebih kecil daripada Alun – Alun Utara. Terletak di sebelah Selatan Kraton dan segaris lurus dengan Alun – Alun Utara sehingga bisa dianggap sebagai halaman belakang Kraton. Dahulu kala, Alkid digunakan sebagai tempat latihan para prajurit Kraton dan tempat persiapan acara Grebegan. Di bagian Timur terdapat kandang gajah milik Kraton Yogyakarta.

Sekarang Alkid menjadi tempat wisata sederhana bagi masyarakat. Ada tiga macam kegiatan yang bisa dilakukan di Alkid untuk melepas lelah. Antara lain masangin, duduk santai sambil makan lesehan dan mengayuh becak cinta.

Masangin

Masangin, Sumber foto : https://jogja.tribunnews.com/


Masangin merupakan singkatan dari masuk dua beringin. Pengunjung harus berjalan sejauh 20 meter melewati ringin kurung dengan mata tertutup. Mitos yang berkembang di masyarakat adalah tercapainya keinginan apabila berhasil melewati ringin kurung. Semakin banyak warga Jogja yang mendengar mitos ini membuat masangin makin viral bahkan sampai ke wisatawan mancanegara.

Namun, apakah mudah untuk memasuki ringin kurung dengan mata tertutup? Ternyata tidak segampang yang kita kira. Tidak sedikit pengunjung yang gagal berjalan lurus. Seringkali mereka justru belok ke kanan maupun ke kiri padahal mereka merasa berjalan lurus. Mitosnya hanya pengunjung yang memiliki hati bersih dan orang yang tulus yang berhasil melewati ringin kurung.

Apabila tidak membawa kain untuk menutup mata, pengunjung bisa menyewa tutup mata yang disediakan di titik mulainya masangin. Tarif persewaannya sebesar Rp. 5.000,-, jadi tidak ada alasan untuk tidak mencobanya, bukan?

Becak Cinta

Keseruan Alkid tidak hanya berhenti di Masangin. Pengunjung bisa melanjutkannya dengan mengayuh becak cinta. Becak cinta sebetulnya merupakan kendaraan yang bisa dinaiki 4 sampai dengan 8 orang tergantung besarnya kendaraan. Cara berjalannya tidak menggunakan mesin, namun semua penumpang harus mengayuhnya. Kendalinya berada di setir layaknya mobil, dan dilengkapi dengan rem tangan seperti becak tradisional. Becak cinta ini dilengkapi dengan lampu yang menghiasi body kendaraan. Biasanya lampu yang digunakan bebentuk tokoh tertentu di bagian atasnya. Tarif becak cinta berkisar antara 60 sampai dengan 80 ribu untuk satu kali putaran.

Lesehan Berbagai Menu

Lesehan, sumber foto : https://makananindonesia.home.blog/


Selesai masangin dan mengayuh becak cinta, pasti rasa lapar segera mendominasi. Pengunjung tidak perlu khawatir karena di sepanjang trotoar yang mengelilingi alkid terdapat pedagang kaki lima dengan berbagai jenis makanan yang ditawarkan. Mulai dari makanan ringan seperti jagung bakar, pisang bakar, bajigur dan ronde, tersedia pula makanan berat seperti pecel lele, nasi goreng dan sebagainya. Lesehan ini buka sampai tengah malam. Pengunjung bisa menikmati suasana malam Kota Yogyakarta di bawah syahdunya langit Alkid.

Dengan semua keramaian sederhana yang ditawarkan, tidak heran jika Alkid menjadi salah satu tempat wisata favorit di Yogyakarta. Jadi, nikmatilah gemerlapnya Alkid baik bersama keluarga maupun bersama teman-teman.

Kamis, 28 Maret 2024

Keindahan Tamansari, Water Castle Dari Yogyakarta

 

Gapuro Panggung, sumber foto : koleksi pribadi

Tamansari sebagai salah satu komplek Kraton Yogyakarta tentunya menjadi salah satu tempat wisata favorit di Kota Yogyakarta. Setelah mengunjungi Kraton, pengunjung pasti penasaran dengan Tamansari. Begitu juga sebaliknya. Ketika mengunjungi Tamansari, pengunjung pasti penasaran dengan kemegahan Kraton Yogyakarta. Memang Tamansari merupakan satu bagian dengan Kraton yang tidak bisa dipisahkan.

Tamansari adalah tempat rekreasi, pemandian dan pesanggrahan bagi raja dan keluarganya. Arti kata Tamansari adaah taman yang indah. Tamansari didirikan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I pada tahun 1758 sebagai lambing kejayaan Raja Mataram.

Keberasaan Tamansari saat ini merupakan bangunan sisa yang bisa diselamatkan dari gempa yang melanda Kota Yogyakarta tahun 1867. Kemudian dilakukan renovasi mulai tahun 1977 untuk menyelamatkan sisa bangunan yang masih ada. Meskipun hanya merupakan sisa gempa, namun bisa menunjukkan kebesaran budaya Kraton Yogyakarta

Lokasi Tamansari berada sekitar 500 meter arah Barat Daya dari Kraton Yogyakarta. Apabila pengunjung langsung menuju Tamansari bisa menggunakan ojek online, maupun kendaraan pribadi. Namun jika merupakan lokasi lanjutan dari Kraton, maka pengunjung bisa naik becak untuk menuju Tamansari.

Harga tiket masuk wisatawan domestik di area Tamansari adalah Rp. 10.000,- bagi anak usia 2 sampai dengan 12 tahun. Untuk dewasa seharga Rp. 15.000,-. Sedangkan harga tiket masuk wisatawan mancanegara adalah Rp. 20.000,- bagi anak usia 2 sampai dengan 12 tahun. Sedangkan untuk dewasa HTM Rp. 25.000,-. Kalau pengunjung membawa kamera professional selain handphone akan dikenakan tarif di luar HTM dan lebih baik koordinasi terlebih dahulu dengan Kantor Tamansari untuk perijinannya.

Setelah membeli tiket, pengunjung akan masuk ke lokasi Tamansari melalui Gapuro Panggung menuju Pasiraman Umbul Binangun. Di sini terdapat tiga kolam pemandian yaitu Umbul Kawitan, Umbul Pamuncar dan Umbul Panguras. Umbul Kawitan merupakan kolam yang digunakan untuk putra putri raja. Umbul Pamuncar digunakan untuk para selir raja dan berada di Tengah. Kolam yang terpisah disebut Umbul Panguras, merupakan kolam yang digunakan oleh Raja dan memiliki air paling jernih dengan mata air yang paling besar. Diantara Umbul Pamuncar dan Umbul Panguras terdapat menara yang hanya boleh dinaiki oleh Raja. Dalam area Pasiraman Umbul Binangun ini, pengunjung juga bisa menemukan ruangan sauna, dan ruang ganti pakaian bagi raja dan keluarganya.

Pasiraan Umbul Binangun, sumber foto : https://www.starjogja.com/

Umbul Panguras, sumber foto : koleksi pribadi


Perjalanan dilanjutkan menuju Gapuro Hageng yang merupakan gerbang utama raja pada zamannya. Nah, di sini pengunjung bisa memilih rute selanjutnya. Jika pilih ke sebelah kiri akan menuju Pasarean Ledoksari yang harus melewati Gedong Carik dan Gedong Madaran. Pasarean Ledoksari merupakan tempat istirahat bagi Sri Sultan. Terdapat tempat tidur Raja yang dilengkapi dengan aliran air di bawahnya serta ventilasi yang menambah kesejukan alami di dalamnya.

Gapuro Hageng, sumber foto : koleksi pribadi

Pasarean Ledoksari, sumber foto : koleksi pribadi


Apabila pengunjung memilih rute sebelah kanan dari Gapuro Hageng, maka akan menuju Pulo Kenanga dan Sumur Gumuling. Pulo Kenanga merupakan bangunan tertinggi di komplek  Tamansari. Sehingga dapat melihat panorama sekitar Tamansari dan Kraton. Pada masanya, tempat ini digunakan sebagai tempat peristirahatan dan berbagai kegiatan seni. Lokasi di sekitar Pulo Kenanga (saat ini sebagai Pasar Ngasem) dahulu kala berupa segaran atau danau buatan. Sehingga Pulo Kenanga terlihat bagaikan istana mengambang di atas air yang sering disebut sebagai water castle.

Pulo Kenanga, sumber foto : koleksi pribadi


Selain Pulo Kenanga, yang menarik adalah Sumur Gumuling yang digunakan sebagai masjid pada masanya. Terdapat bangungan berbentuk lingkaran berlantai dua. Di pusat lingkaran atau pusat bangunan terdapat empat buah tangga yang saling bertemu di anak tangga teratas. Dari pertemuan anak tangga teratas terdapat satu tangga menuju lantai dua. Di bagian bawah empat tangga adalah tempat untuk berwudlu pada zamannya. Cara untuk menuju Sumur Gumuling adalah melalui terowongan bawah tanah yang disebut dengan urung-urung. Sumur Gumuling (sebelum direnovasi) digunakan oleh KLa Project dalam video klip lagu Yogyakarta. Sayangnya saat ini sumur gumuling tidak dibuka untuk umum.

Sumur Gumuling, sumber foto : https://nationalgeographic.grid.id/

urung - urung, sumber foto : koleksi pribadi

Berkeliling Tamansari membuat kita berdecak kagum dengan kekayaan budaya Yogyakarta. Saran saya, sebaiknya pengunjung membaca sejarah singkat Tamansari sebelum berkunjung. Sehingga ketika guide menjelaskan bisa dimengerti dengan mudah.

Jangan lupa siapkan memori yang besar untuk menyimpan koleksi foto di keindahan Tamansari, ya.

Sekelumit Cerita Dibalik Kebesaran Kraton Yogyakarta

 

sumber foto : https://terasmalioboro.jogjaprov.go.id/

Sebagai salah satu lokasi wisata favorit di Kota Yogyakarta, Kraton memberikan warna tersendiri di dunia pariwisata Yogyakarta. Objek yang disuguhkan di Kraton sungguh mengandung makna yang dalam tentang Kota Yogyakarta baik dari segi sejarah maupun budayanya.

Kraton Yogyakarta didirikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I pada tahun 1755 setelah munculnya Perjanjian Giyanti. Perjanjian Giyanti menyebutkan Kerajaan Islam Mataram dibagi menjadi dua yaitu Kasultanan Yogyakarta (dipimpin oleh Sri Sultan Hamengkubuwono) dan Kasunanan Surakarta (dipimpin oleh Susuhunun Paku Buwono). Perjanjian Giyanti dilanjutkan dengan Perjanjian Jatisari yang menghasilkan perbedaan tata cara berpakaian, adat istiadat, tarian, Bahasa, gamelan dan lain sebagainya bagi Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Kasultanan Yogyakarta memilih untuk tetap melanjutkan budaya Mataram, sementara Kasunana Surakarta menciptakan budaya baru.

Sebagai istana raja, tentu saja kraton memiliki beberapa jenis bangunan dengan fungsi yang berbeda-beda. Secara garis besar, komplek kraton terdiri dari alun-alun utara, pagelaran & sitinggil lor, kamandungan lor, srimanganti, kedhaton, kemagangan, kemagangan kidul, sitinggil kidul dan alun-alun selatan.

Pada tulisan kali ini yang akan saya sampaikan adalah bagian pagelaran dan sitinggil lor. Sesuai dengan tiket masuk area pertama. Pintu masuk pagelaran dan sitinggil lor berada mepet dengan alun – alun lor. Harga tiket masuknya adalah Rp.15.000,- untuk wisatawan domestik dewasa, dan Rp. 10.000,- untuk wisatawan domestik anak-anak (usia 2 sampai dengan 12 tahun). Untuk wisatawan mancanegara dewasa dikenakan HTM sebesar Rp. 25.000,- dan anak – anak sebesar Rp. 20.000,-

Area pertama yang bisa dikunjungi wisatawan adalah pagelaran. Pada area ini terdapat diorama mengenai tata busana dan adat istiadat raja. Mulai dari tata busana raja ketika masih kecil, ketika sudah dewasa. Terdapat juga tata busana raja dalam masing-masing kegiatan. Seperti kegiatan berburu, kegiatan menerima tamu, maupun kegiatan besar lainnya memiliki tata busana yang berbeda. Melihat diorama ini, pasti pengunjung akan berdecak kagum tentang keragaman budaya di Kraton.

Selanjutnya pengunjung akan memasuki area sitinggil lor. Namun sebelum menapaki anak tangga pertama, di sebelah kanan dan kiri terdapat dua patung abdi dalem dengan ukuran sebesar aslinya. Sangat menarik sebetulnya. Dengan kostum abdi dalem yang dikenakan, pose patungnya adalah duduk bersila. Satu patung di sebelah kanan dan satu patung di sebelah kiri. Akan tetapi, ternyata patung tersebut adalah abdi dalem yang bertugas sebagai eksekutor terpidana.

Patung yang mempunyai kumis tebal bernama Mertolulut. Mertolulut bertugas mengeksekusi hukuman berat seperti hukuman pancung maupun hukuman gantung. Sedangkan untuk hukuman ringan seperti potong jari, atau potong tangan dilakukan oleh abdi dalem Singonegoro. Patung Singonegoro letaknya bersebarangan dengan Mertolulut. Masih dengan ukuran, baju, dan posisi yang sama dengan Mertolulut yang membedakan Singonegoro dengan Mertolulut adalah tanpa kumis. Wah, ternyata tugas dua abdi dalem ini tidak main-main.

Mertolulut (sumber foto : mustanir.net)


Singonegoro (sumber foto : pinterest.com)

Setelah melewati dua patung abdi dalem, pengunjung akan diajak menaiki anak tangga menuju Sitinggil Lor. Sitinggil bisa diartikan sebagai tempat yang tinggi. Dari sitinggil ini, jika memandang lurus ke Utara, dapat terlihat Jalan Malioboro dan juga Tugu Yogyakarta. Tempat ini dahulu digunakan Sri Sultan sebagai tempat untuk memimpin proses atau acara resmi kerajaan.

Selain bangunan pagelaran dan sitinggil, komplek luar Kraton terdapat alun-alun utara dan Masjid Gedhe Kauman. Alun-Alun Utara bisa diartikan sebagai halaman depan Kraton Yogyakarta. Berupa lapangan terbuka dengan dua buah pohon beringin di tengahnya. Saat ini Alun – Alun Lor dikembalikan tatanannya seperti semula, yaitu dengan pagar yang mengelilinginya serta pasir Laut Selatan sebagai alasnya.

Masjid Gedhe Kauman merupakan tempat ibadah raja pada dahulu kala. Saat ini Masjid Gedhe Kauman dibuka untuk umum. Sehingga pengunjung bisa menunaikan ibadah sholat di sini. Pintu masuk masjid berada di sisi barat sebelah utara dari pintu masuk pagelaran.

Nah, itu adalah sekelumit cerita tentang Kraton bagian depan. Sebelum mengunjungi Kraton sebaiknya pengunjung membaca tentang sejarah Kraton. Sehingga ketika guide bercerita tentang segala sesuatunya, pengunjung bisa menerima dan tidak bingung.

Minggu, 17 Maret 2024

Pasar Bringharjo, Pasar Paling Ngetop Dari Jogja

 

sumber foto : https://jogja.tribunnews.com/

Kalau ada yang bertanya pasar apa yang paling ngetop di Kota Yogyakarta, jawabannya pasti Pasar Bringharjo. Ya, pasar yang berada dalam ruas Jalan Malioboro inilah yang paling dicari oleh wisawatan maupun warga Jogja sebagai salah satu tempat wisata favorit di Kota Yogyakarta. Bahkan warga asli Jogja yang sedang merantau, pasti akan selalu mampir Pasar Bringharjo ketika berada di Kota Yogyakarta.

Asal mula nama Bringharjo sendiri terdiri dari beberapa versi. Namun, secara garis besar nama Bringharjo terdiri kata “bring” yang artinya pohon beringin dan kata “harjo” yang  artinya mensejahterakan. Memang lokasi pasar ini dahulu kala banyak ditemukan pohon beringin. Selain itu fungsi dari pasar ini adalah untuk tempat jual beli sejak zaman Sri Sultan Hamengkubuwono I.

Pasar Bringharjo ini memiliki bangunan yang sangat luas yang dipisahkan oleh sebuah jalan tembus sisi Utara ke sisi Selatan. Bangunan sebelah Barat, memiliki beberapa pintu masuk. Pintu masuk utama berada di sisi Barat yang langsung menghadap Jalan Malioboro. Biasanya ini adalah pintu masuk favorit pengunjung terutama yang berasal dari luar Jogja. Pintu masuk berikutnya yang sama lebarnya dengan pintu Barat adalah pintu Timur yang berada pada jalan tembus Utara dan Selatan. Selain itu ada pula pintu masuk Utara dan Selatan yang tidak selebar pintu Barat dan Timur.

Untuk bangunan sebelah Timur, terdapat pintu masuk bagian Barat yang berhadapan dengan pintu masuk Timur bangunan sisi Barat. Selain itu terdapat pintu masuk sisi Utara dan Selatan yang tidak selebar pintu masuk sisi Barat.

Bangunan sisi Barat menjual batik, dan oleh-oleh. Batik yang dijual mulai dari kain batik, kain lurik, gorden, sprei, baju siap pakai, surjan, blangkon, sarung bantal dan taplak meja kursi tamu. Untuk oleh-oleh yang dijual ada bakpia, geplak, dan aneka camilan ringan. Selain itu terdapat juga sandal, dan sepatu di sisi Selatan. Pada pintu masuk bagian Barat terdapat makanan siap saji yang bisa disantap saat itu. Mulai dari pecel, gudeg, sate kronyos, dan dawet. Bangunan sisi Timur menjual aneka kebutuhan pengantin, souvenir, dan jamu rebusan. Bahkan untuk penggemar barang antik, dapat ditemui di bangunan sisi Timur ini.

Selain bangunan utama yang berada di sisi Barat dan Timur, ada pedagang yang berada di pinggir bangunan pasar yang sangat sayang jika dilewatkan. Di sisi Utara bangunan sebelah Barat terdapat pedagang yang menjual uang kuno mulai dari uang kertas maupun uang koin. Dan ada juga barang antik dengan dimensi kecil yang terbuat dari tembaga, maupun kuningan. Ada pula yang menjual pita kaset untuk menambah koleksi barang antik.

Yang namanya pasar pastinya harga yang ditawarkan beraneka ragam. Meskipun ada yang menawarkan dengan harga pas, namun tidak sedikit penjual yang menawarkan dengan harga yang mengharuskan pengunjung untuk menawarnya. Jadi lebih baik dipastikan terlebih dahulu, apakah harga yang diberikan oleh penjual dapat ditawar atau merupakan harga pas.

Untuk menuju lokasi Pasar Bringharjo tidaklah sulit. Tinggal mengikuti Jalan Malioboro maka sampailah kita di Pintu Barat Pasar Bringharjo. Bisa menggunakan kereta yang turun di Stasiun Tugu lalu diteruskan dengan Andong atau ojek online. Selain itu bisa juga menggunakan bus Trans Jogja via Jalan Malioboro, atau via Kantor Pos (Titik Nol Kilometer)

Kurang puas apalagi kalau sudah belanja di Pasar Bringharjo? Yuk, buruan borong…

Sabtu, 16 Maret 2024

Malioboro, Ikoniknya Kota Yogyakarta

 sumber foto : liputan 6.com 

Malioboro, 

Siapa yang tidak mengenalnya? Ketika mendengar kata “Malioboro” maka semua pikiran akan menuju Kota Yogyakarta. Ya, memang Malioboro adalah salah satu icon dari Kota Yogyakarta. Akan terbayang dalam ingatan, sebuah jalan raya yang membentang dari Stasiun Tugu Yogyakarta sampai Titik Nol Kota Yogyakarta yang mengarah ke Alun – Alun Utara Keraton Yogyakarta. 

Banyak versi yang menyatakan asal usul nama Malioboro. Mulai dari Bahasa Sansekerta yang berarti karangan bunga, hingga sebagai penghargaan untuk Jenderal Inggris sebagai Adipati Marlborough pada masanya. Adapula yang menyatakan kata Malioboro dalam filosofi Jawa yaitu sebagai “malio” dan “umboro” yang berarti berperilaku seperti wali dan mengembara untuk mencari pengetahuan dan pengalaman hidup. 

Terlepas dari bagaimana asal usulnya, Malioboro masih menjadi tempat wisata favorit di Kota Yogyakarta. Baik bagi warga asli Yogyakarta, ataupun pendatang baru, apalagi bagi perantau yang berasal dari Yogyakarta, pasti akan selalu rindu dengan Malioboro. Sehingga menjadikannya destinasi yang wajib dikunjungi ketika berada di Kota Yogyakarta. 

Untuk mencapai tujuan Jalan Malioboro sangatlah mudah. Jika menggunakan kereta api, silakan turun di Stasiun Tugu lalu keluar dari pintu Selatan (Pasar Kembang). Kemudian berjalan sekitar 200 meter ke arah Timur, dan sampailah di Jalan Malioboro paling ujung Utara. Selain itu Jalan Malioboro bisa ditempuh menggunakan ojek online maupun bus Trans Jogja. Bagi yang menggunakan kendaraan pribadi tersedia beberapa kantong parkir baik di Taman Parkir Abubakar Ali, Ngabean, dan juga di Malioboro Mall serta Ramai Mall. Sekarang sepeda motor dilarang parkir di sepanjang Jalan Malioboro, namun harus memanfaatkan kantong parkir tersebut. 

Jalan Malioboro sebenarnya dibuka selama 24 Jam alias bisa dilalui kapan saja. Hanya saja kondisinya pasti berbeda. Pada pagi hari sampai di bawah pukul 09.00 WIB, banyak pengunjung yang bersepeda sambil menikmati suasana pagi Jalan Malioboro. Kemudian mulai pukul 9.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB Jalan Malioboro akan berada pada fungsi utamanya yaitu sebagai pusat perbelanjaan. Dengan lokasi yang terbentang sepanjang kurang lebih satu kilometer, tak salah ketika Malioboro disebut sebagai surga belanja.

Dahulu, selain pertokoannya, Malioboro sangat terkenal dengan pedagang kaki lima (PKL) yang menjajakan dagangannya dengan harga yang bervariasi. Jangan lupa bahwa untuk belanja di PKL, pengunjung wajib menawar untuk mendapatkan harga yang ideal. Namun sejak tahun 2022, PKL direlokasi ke bekas Gedung Pariwisata DIY (sebelah utara Malioboro Mall) dan Pusat UMKM yang berada di depan Pasar Beringharjo. Hal itu seiring dengan pembangunan pedestarian di Kawasan Malioboro. 

Selain pertokoan dan PKL, pengunjung dapat menikmati kuliner yang tersedia di Kawasan Jalan Malioboro. Beberapa kuliner legendaris yang ada adalah Lumpia Samijaya dan Pempek Ny. Kamto. 

Untuk mengenang Yogyakarta dan menambah koleksi foto, pengunjung dapat mencoba jasa foto yang tersedia di Jalan Malioboro lebih tepatnya di depan Gedung Kepatihan. Untuk menambah kesan Jawa, pengunjung dapat menyewa kebaya, kain jarik, surjan, blangkon dan selop kepada penyedia jasa foto. Perlengkapan yang disewakan tersedia untuk pria, wanita dan anak-anak. Lokasi foto berada di outdoor yaitu di beberapa spot cantik sepanjang Jalan Malioboro. 

Apabila pengunjung merasa capek berjalan kaki, maka bisa menggunakan andong untuk berkeliling. Dengan naik kereta beroda empat yang ditarik oleh seekor kuda, sangat terasa hembusan angin yang menerpa wajah. Sungguh menjadikan sensasi tersendiri. 

Pengunjung yang ingin bermalam, tidak perlu khawatir. Karena saat ini banyak sekali hotel dan penginapan yang tersedia di Jalan Malioboro. Salah satu yang paling legendaris adalah Hotel Inna Malioboro yang berada di sisi paling Utara Jalan Malioboro. Hotel ini dibangun pada tahun 1908 dengan nama Grand Hotel de Djogja. Kemudian beberapa kali berganti nama menjadi Asahi Hotel, Hotel Merdeka, Hotel Garuda, Nataour Garuda, Inna Garuda dan sekarang menjadi Grand Inna Malioboro. Sayangnya saat ini Hotel Grand Inna Malioboro sedang direnovasi untuk mencapai standar bintang 5 dan direncanakan dibuka kembali pada Bulan April 2024 dengan wajah dan merk baru. 

Tak perlu khawatir dengan penutupan sementara Hotel Grand Inna Malioboro, karena masih banyak hotel dan penginapan yang tersedia baik di ruas Jalan Malioboro, maupun di sekitarnya. 

Nah, dengan semua itu, tak heran jika Malioboro menjadi tempat wisata favorit di Yogyakarta. Yuk, buruan ke Jogja…

Senin, 14 Agustus 2023

Rumah Cokelat Bodag, Penghasil Cokelat di Kabupaten Madiun Yang Patut Dikunjungi

 


Daerah Bodag berada di Kabupaten Madiun dengan ketinggian sekitar 600 mdpl. Di sini terdapat sekitar 40 Ha kebun cokelat yang terletak secara sporadis dan menghasilkan sekitar 12 hingga 15 ton kakao tiap tahunnya.

 

Manfaat cokelat bagi tubuh yang sangat umum adalah bisa memperbaiki suasana hati. Ketika sedang badmood lalu kita mengkonsumsi cokelat, maka suasana hati akan membaik. Sebenarnya, masih banyak manfaat cokelat bagi tubuh. Antara lain : mencegah penyakit jantung, memberikan efek kenyang, meningkatkan fungsi otak, menurunkan hipertensi dan menghambat sel kanker.

 

Mengetahui fungsi cokelat yang banyak dan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat, kakao hasil kebun cokelat di Bodag diolah menjadi beberapa produk yang semuanya diberi merk Madcho yang artinya Madiun Cokelat dan diproduksi di Rumah Cokelat Bodag.

 

Rumah Cokelat Bodag terletak sekitar 19 km dari Kota Madiun ke arah Kare (Museum PKI). Mengingat lokasinya yang berada di ketinggian 600 mdpl, tentu saja Anda harus menyiapkan kendaraan dengan kondisi yang prima. Karena jalan yang akan dilalui pastinya naik turun tajam dengan kelokan yang tidak sedikit. Namun tidak perlu khawatir, semua itu akan terbayar dengan udara sejuk yang menyapa begitu kita sampai di Rumah Cokelat Bodag.

 

Begitu masuk, kita akan disambut dengan ruangan pengolahan cokelat yang menyuguhkan aroma cokelat yang lezat. Sayangnya pengunjung tidak bisa masuk tanpa ada izin terlebih dahulu. Namun jangan khawatir, jika ingin menimba ilmu tentang pengolahan cokelat mulai dari pemilihan biji kakao, hingga proses pengemasan, Anda bisa menghubungi sosmed Rumah Cokelat Bodag antara lain :

 

Whatsapp      : 0812-3331-2232

IG                : rumah.coklat.bodag

Facebook      : Rumah Cokelat Bodag

Website        : https://rumahcokelatbodag1.wixsite.com//website

 

Setelah melaui ruangan pengolahan cokelat dengan aroma yang begitu menggoda, kita akan menjumpai Showcase yang berisi semua produk yang dihasilkan dari Rumah Cokelat Bodag. Mulai dari cokelat bubuk untuk minuman dengan berbagai varian rasa, juga cokelat batang dengan berbagai varian rasa dan ukuran. Kemudian ada juga cokelat praline yang menambah variasi cokelat produksi Rumah Cokelat Bodag. Selain aneka cokelat, juga tersedia merchandise berupa mug dan gantungan kunci. Sangat bervariatif untuk oleh – oleh dan souvenir, bukan?

 



Sambil menunggu hilangnya penat yang ada, rasanya sayang jika melewatkan sejuknya udara Bodag. Anda bisa memesan aneka minuman dingin dan hangat yang tentu saja bahan baku utamanya adalah cokelat. Baik cokelat murni maupun yang sudah dikombinasi dengan rasa lainnya. Selain itu tersedia pula beberapa menu makanan ringan. Tapi yang ini tidak berasal dari cokelat. Makanan ringan yang tersedia antara lain french fries, tahu tuna, pangsit goreng dan lain sebagainya. Anda bisa menikmati semua itu di gazebo yang telah tersedia.

 


Selain gazebo, tersedia pula sebuah ruangan semi outdoor yang bisa menampung sekitar 50 orang. Ruangan ini biasa digunakan ketika kegiatan edukasi berlangsung. Selain itu fasiitas umum yang tersedia adalah toilet dan mushola.

 


Yang penasaran dengan edukasi tentang cokelat dan ingin menikmati aneka olahan cokelat di udara sejuk, Yuk, segera luangkan waktu untuk berkunjung ke Rumah Cokelat Bodag di Kabupaten Madiun.

 

 

The Heritage Palace, Wisata Selfie Sepuasnya

 



The Heritage Palace merupakan tempat wisata selfie sepuas-puasnya yang berada di Kartasura, Sukaharjo Jawa Tengah. Tepatnya berada di Jl. Permata Raya Dukuh Tegah Mulyo RT. 002/RW. 008, Honggobayan, Pabelan, Kartasura, Sukoharjo. Berjarak sekitar 10 km dari kota Solo, dapat ditempuh menggunakan ojek online.

Bangunan ini terlihat sangat unik dengan kesan kolonial Eropa Klasik yang sangat terasa. Tidak heran, karena lokasi ini merupakan bekas Pabrik Gula Gembongan yang didirikan oleh Belanda. Tidak banyak yang berubah dalam pembangunan The Heritage Palace. Hanya beberapa sentuhan modern yang menjadikan bangunan ini sebagai salah satu bangunan kolonial yang bisa dinikmati masa sekarang dan masa yang akan dating.

Dari parkir mobil, kita akan masuk dan menjumpai loket dengan beberapa pilihan tiket. Diantaranya tiket terusan, tiket outdoor dan indoor, juga tiket gate dengan tarif yang berbeda dan menyesuaikan weekend dan weekday.

Wisata ini dibuka setiap hari mulai pukul 09.00 – 18.00 WIB (dengan close tiket pada pukul 16.00 WIB). Saran saya lebih baik mengunjunginya pada sore hari sekitar pukul 15.00 WIB. Selain menghindari teriknya matahari, kita juga bisa menikmati indahnya café di atas pintu keluar yang sangat memanjakan mata dengan pemandangan malamnya.

Lokasi pertama yang ditemui setelah mendapatkan tiket masuk adalah sebuah ruangan yang saya sebut dengan ruang perkenalan. Di dalamnya terdapat sebuah mesin asli yang digunakan pada saat pabrik gula ini masih beroperasi. Selain itu terdapat sebuah mobil antik dan juga dinding selfie tiga dimensi. Seolah-olah ruangan ini memperkenalkan kepada kita tentang isi di dalamnya.



Keluar dari lokasi tersebut kita diarahkan ke Museum Transportasi. Di bagian ini, menyajikan berbagai jenis transportasi zaman dulu mulai dari roda dua hingga roda empat. Serunya lagi, kita bisa menaikinya untuk beraction dan mendapatkan berbagai pose yang unik. Tentu saja dengan pengarah gaya para guide yang berbusana lurik.



Wahana berikutnya adalah Omah Kwalik. Berganti wahana, maka berganti pula guide yang menemani kita. Di wahana ini, Anda harus pandai mengekspresikan diri. Sehingga foto yang dihasilkan akan lebih hidup. Karena di Omah Kwalik semua perabot dipasang secara terbalik (berada di atas). Sehingga akan menghasilkan foto yang unik. Seperti wahana sebelumnya, di sini para guide akan membantu memfotokan dan mengarahkan gaya atau ekspresi. Jika tidak ingin menggunakan guide, sudah disediakan titik terbaik untuk angel pengambilan foto.



Setelah dari Omah Kwalik, kita tidak perlu keluar gedung, karena langsung berbatasan dengan wahana tiga dimensi. Di sini makin banyak dinding selfie yang akan membawa kita layaknya di negeri dongeng. Karena museum tiga dimensi ini menggunakan seni fotografi yang tinggi sehingga seolah-olah gambar tersebut berada di tempat aslinya. Baik gambar pemandangan alam maupun fantasi.

Tak perlu risau dengan rasa lapar maupun dahaga selepas berkeliling semua wahana. Karena di sekitar wahana tersedia outlet minuman maupun makanan ringan. Namun ketika senja mulai hadir, dan lampu mulai nyala, outlet tersebut akan tutup. Diganti dengan café di atas pintu keluar yang akan mulai menemani pengunjung di malam hari.

Eits, tapi untuk pengunjung malam hari hanya bisa menikati indahnya lampu dan bangunan The Heritage Palace saja tapi tidak bisa menikmati tiga wahana yang disebutkan di atas. Selain itu, pintu masuk pengunjung malam dimulai dari Café tersebut (jika siang hari menjadi pintu keluar). Sambil menunggu persiapan café beroperasi, pengunjung yang muslim bisa melakukan sholat Magrhib di mushola yang disediakan.



Jika kepo dengan The Heritage Palace tapi belum yakin untuk mengunjunginya, Anda bisa cek di beberapa akun Sosmednya, antara lain :

Whatsapp/telegram       : 082233106999

IG                                  : @theheritagepalace

Twitter                           : @wisatathp1

Facebook                      : The Heritage Palace

Email                             : wisatathp1.mkt@gmail.com

Website                         : www.wisatatheheritagesolo.com

 

Yuk, segera nikmati indahnya The Heritage Palace. Jangan lupa siapkan baterai full dan memori yang besar untuk menyimpan foto - foto terbaikmu.

 

Hiruk Pikuk SPMB Jenjang SMPN Tahun 2025 Kota Madiun, Jawa Timur

  sumber gambar : freepik.com DISCLAIMER !!! Tulisan ini hanya menceritakan kondisi SPMB SMP Negeri Tahun 2025 di Kota Madiun Jawa Timur. ...